Menjelaskan posisi strategis HMI bisa dipakai
beberapa pendekatan, semisal pendekatan historis, politis, atau sosiologis.
Segenap Pendekatan yang ada adalah absah adanya, setiap pendekatan berhak untuk
dipakai sebagai alat analisis yang memungkinkan untuk memeperoleh kesimpulan
yang bersifat mendasar dari posisi strategis HMI.
Namun, segenap pendekatan mau atau tidak mau akan lebih bernilai kontektual jika memasukkan unsur masa depan, karena dari unsur masa depan tersebutlah HMI dapat memperoleh manfaat maksimal dari setiap hasil analisis terhadap HMI, karena terkait dengan masalah keberadaan HMI, yakni bahwa HMI sebagai sebuah organisasi adalah berhak untuk hidup dan cukup berharga untuk tetap diperjuangkan.
Namun, segenap pendekatan mau atau tidak mau akan lebih bernilai kontektual jika memasukkan unsur masa depan, karena dari unsur masa depan tersebutlah HMI dapat memperoleh manfaat maksimal dari setiap hasil analisis terhadap HMI, karena terkait dengan masalah keberadaan HMI, yakni bahwa HMI sebagai sebuah organisasi adalah berhak untuk hidup dan cukup berharga untuk tetap diperjuangkan.
Nilai strategis HMI dapat ditatap dari tiga perspektif. Pertama, Bangsa
Indonesia tengah tengah dan terus berupaya untuk melakukan proses pembangunan
yang merupakan kelanjutan secara kualitatif dan kuantitatif dari tahapan
pembangunan sebelumnya. Sebagai kelanjutan problem yang akan menghadang tentu
akan semakin berat. Apalagi ada semangat untuk secara kritis melihat
hasil-hasil sebelumnya. guna dilakukan perbaikan-perbaikan.
Pada konteks ini, segenap potensi kebangsaan perlu melibatkan diri secara
aktif, termasuk HMI sebagai salah satu anak bangsa. HMI dituntut untuk turut
menorehkan tulisannya pada bangunan sejarah bangsa ke depan.
Kedua, saat ini umat Islam semakin ditantang untuk memainkan perannya dalam
wacana kebangsaan atau proses pembangunan nasional. Semakin masuknya umat Islam
dalam percaturan nasional saat ini menuntut peran-peran yang benar-benar
kontributif. Sisi lain adalah tantangan untuk mengkonstruksi spiritualitas baru
yang bisa menempelkan agama dalam problem-problem riil kemanusiaan yang saat
ini susah dijawab oleh ideologi-ideologi besar yang selama ini berkembang. Pada
konteks ini, HMI sebagai anak umat dituntut mempertajam perannya untuk
berijtihad dalam kerja kemanusiaan maupun konsep-konsep baru yang akan
menyebangunkan agama dengan kebutuhan empirik manusia penganutnya.
Ketiga, Secara intern banyak problem organisasi yang mendesak untuk dibenahi
sebagai jawaban logis dari dinamika intern maupun pergeseran lingkungan.
Problem-problem inilah yang menjadi sebab mengapa HMI terasa mengalami degradasi
peran, meski metabolisme organisasi masih berjalan normal.
Ketiga latar tersebut menggambarkan betapa tantangan HMI sangat kompleks.
Sementara harapan masyarakat akan kiprahnya tetap besar. Banyak lontaran kritik
yang terarah pada HMI, oleh HMI meski dipahami sebagai harapan masyarakat akan
kiprah dan kerja-kerjanya. Sebaliknya, bukan justru dipahami sebagai sengatan
atau serangan yang hendak mematikan, meski mungkin tujuan ini ada juga.
Betapapun, harapan itu mesti dipanggul HMI. Masyarakat terlanjur percaya bahwa
HMI mampu menawarkan makna bagi perubahan masyarakat menuju tempat yang lebih
baik.
Sementara masyarakat berharap, kondisi intern HMI sendiri mengalami masa-masa
sulit. Logikanya kesibukan intern yang terlalu menyita energi acap kali menjadi
tembok penghadang terhadap peran-peran eksternalnya. Ini yang menurut beberapa
pengamat terjadi pada HMI hari ini. Hal ini harus diakui. Tak ada manfaatnya
terus berapologi sekedar untuk mempertahankan gengsi sempit.
Bahwa HMI mempunyai formart tersendiri yang khas untuk menyahuti dinamika
eksternal, seperti isu-isu global: demokrasi, HAM dan lingkungan, itu adalah
hak HMI sebagai organisasi yang memang berbeda dengan yang lain. HMI berbeda
dengan OKP yang lain, dan bahkan dengan forum-forum atau komite-komite.
Membandingkan begitu saja justru kurang arif. Tetapi, bahwa HMI dari ini kurang
memanfaatkan potensi dirinya untuk melakukan sahutan-sahutan ini mesti diakui.
Banyak perangkat organisasi yang bisa didayagunakan untuk itu, tetapi secara
riil belum jalan. Misalnya Lembaga Kekaryaan strategis, lantaran bisa menjadi
institusi bina profesi dan tangan langsung pengabdian ke masyarakat, masih acap
dipandang sebagi kelas dua.
Lantaran itu, ke depan, HMI mesti melakukan beberapa hal sebagai bentuk
partisipasinya. Ibarat orang yang kurang sehat, ia mesti menemukan jalan
terapinya.
Pertama, melanjutkan reorientasi aktivitas sebagai organisasi kemahasiswaan.
Bahka aktivitas-aktivitasnya diaksentuasikan dan diorientasikan pada upaya
untuk mengakomodasi kepentingan dan aspirasi mahasiswa. Gerakan untuk
mengembalikan basis HMI di kampus perlu diteruskandan dipertajam.
Membangun basis di kampus bukan hanya bermakna bahwa HMI sukses dalam melakukan
rekruitmen dan aktif dalam lembaga-lembaga kemahasiswaan, tetapi juga dalam
aktivitas-aktivitas HMI benar-benar merupakan penajaman intelektualitas dan
profesionalitas. HMI bisa menjadi second campus, yakni menawarkan
aktivitas-aktivitas alternatif yang bersifat komplementer. Maka, komisariat
sebagai ujung tombak HMI mesti mendapat prioritas perhatian dalam kebijakan
organisasi. Dengan demikian, wajah HMI adalah gambaran aktivitas-aktivitas di
komisariat, bukan di PB, Badko atau Cabang.
Kedua, memperkukuh independensi sebagai upaya untuk menjaga citra dan jati diri
HMI. Perkara ini patut diperhatikan, demi senantiasa menjaga obyektivitas dan
kekritisan kerja-kerja HMI. Komitmen HMI adalah pada nilai-nilai kebenaran dan
kemanusiaan, dan kerja HMI adalah kerja-kerja kemanusiaan.
Sudah ditegaskan secara organisatoris, HMI tidak mengikatkan diri dan membangun
komitmen dengan pihak manapun, dan secara etis komitmennya hanya memperjuangkan
nilai-nilai kebenaran. Kukuhnya independensi akan membuka jalan bagi
implementasi perjuangan dan kerja kemanusiaan tanpa takut dan sungkan. Tanpa
rikuh pada siapa pun termasuk alumninya sendiri. Dekat dengan alumni bagi HMI
adalah keharusan, tetapi tanpa memakan sikap kritisnya sebagai mahasiswa.
Ketiga, meningkatkan etik kejuangan anggota dan pengurus. Kualitas etik
kejuangan ini dirasa mendasar maknannya guna menangkal merebaknya pragmatisme
dalam berorganisasi. Catatan menunjukkan bahwa berorganisasi lebih sebagai
saluran kepentingan sesaat dan bukan untuk mempertajam idealisme serta
memperjuangkannya. Beberapa tahun terakhir, gejala ini mulai terlihat pada
kehidupan organisasi di negeri ini. Fenomena "kursi sentris" adalah
salah satu contoh yang sederhana. Bagi kepentingan HMI ke depan gejala ini
tidak boleh masuk dan merebak ke tubuh organisasi. Antisipasinya adalah menjaga
dan merawat vitalitas idealisme dan etik kejuangan. Berorganisasi bukan untuk
mendapat melainkan menjadi.
Orientasi mendapat justru menjadi beban bagi organisasi, dan ini akan semakin
memperparah kondisi intern. Mendapat dalam bingkai idealisme adalah resonansi
saja dari proses menjadi. Tugas membangun lintasan-lintasan hari depan HMI
Menjadi tanggung jawab kita bersama sebagai anggota HMI melalui
mekanisme-mekanisme organisasi yang sudah tersedia.
Taken From:
"MENUJU MASYARAKAT MADANI: Pilar Dan Agenda Pembaharuan"
By: Anas Urbaningrum
